Informasi mengenai lomba menulis blog dengan tema Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI ini saya peroleh dari blog miliknya salah seorang blogger Pontianak yang cukup terkenal yaitu Blogger Borneo. Setelah membaca tulisan beliau ternyata saya jadi termotivasi dan berminat untuk ikut serta dalam lomba menulis blog tersebut. Ya hitung-hitung ikut menyuarakan aspirasi rakyat Kalimantan Barat lah, siapa tahu aja ada anggota DPR RI yang secara tidak sengaja membaca tulisan saya ini. Aminnn…
Sekarang apa sih bidang yang sampai saat ini masih harus diprioritaskan untuk dibenahi di Kalimantan Barat?. Dalam hal ini, seandainya saya menjadi anggota DPD RI Kalimantan Barat maka saya akan memprioritaskan bidang pendidikan sebagai fokus utama khususnya pendidikan di wilayah perbatasan. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa belakangan ini isu mengenai masyarakat perbatasan sedang menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Mulai dari isu lunturnya rasa nasionalisme mereka terhadap ibu pertiwi hingga ancaman tindakan menaikkan bendera negara tetangga pada hari kemerdekaan RI beberapa waktu lalu cukup dapat membuat pemerintah pusat yang berkuasa merasa kebakaran jenggot pada saat itu.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, apa sih yang telah pemerintah pusat lakukan untuk mereka sampai saat ini?. Oke, memang ada wilayah perbatasan yang mendapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Cuma wilayah perbatasan yang dimaksud termasuk dalam jalur perbatasan langsung antar negara yaitu Entikong, ya wajar sajalah dibantu. Sedangkan untuk wilayah-wilayah perbatasan yang lain bagaimana?. Hanya perlu diketahui saja bahwa diantara 12 kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, 5 kabupaten diantaranya langsung berhadapan dengan perbatasan antar negara.
Jangan pernah ragukan rasa nasionalisme dalam diri saya, mungkin itu jawaban umum yang akan diberikan oleh masyarakat perbatasan seandainya mereka ditanya apakah masih memiliki rasa nasionalisme sampai saat ini. Hanya saja, situasi dan kondisi yang terkadang memaksa mereka harus bersikap seolah-olah tidak memiliki rasa nasionalisme. Sekarang saya tanya kepada Anda semua, apakah hanya karena mereka menggunakan fasilitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan komunikasi miliknya negara tetangga dapat dianggap sebagai tidak NASIONALISME?. Apakah hanya karena mereka berbelanja kebutuhan pokok di negara tetangga yang harganya lebih murah dapat dianggap mereka menggadaikan rasa NASIONALISME mereka?. Mungkin seharusnya malah kondisinya dibuat terbalik, justru pihak-pihak yang memvonis mereka tidak memiliki rasa NASIONALISME harus memahami dengan sepaham-pahamnya mengenai apa itu NASIONALISME.
Memang benar ada ungkapan yang menyatakan bahwa kita hanya bisa menyalahkan seseorang tanpa pernah merasakan langsung apa yang dirasakan oleh “orang bersalah” tersebut. Disini masyarakat perbatasan dianggap telah melakukan kesalahan hanya karena mereka menggunakan semua fasilitas dan infrastruktur miliknya negara tetangga. Sekarang pernahkah kalian berpikir kenapa mereka sampai terpaksa melakukan semua itu?. Pernah lihat kondisi sekolah negeri, rumah sakit pemerintah, puskesmas pedesaan, hingga jalan antar kecamatan yang mereka miliki?. Sangat memprihatinkan…
Jadi satu kesimpulan yang dapat diambil dari sini adalah seandainya saya menjadi anggota DPD RI, maka saya akan memprioritaskan pembangunan di wilayah perbatasan. Dan tentunya untuk mendukung itu saya tidak bisa melakukannya sendiri, butuh dukungan dari semua pihak agar tujuan tersebut bisa dicapai bersama. Sebagai penutup kata, saya hanya bisa berpesan kepada anggota DPD RI saat ini: “DENGARLAH SUARA ANAK NEGERI INI…”. (DW)
