Diskusi Asyik Mengenai Kondisi Literasi di Kalangan Mahasiswa, Cukup Miris

Dwi Wahyudi

Diskusi Asyik Mengenai Literasi di Kalangan Mahasiswa
Diskusi Asyik Mengenai Literasi di Kalangan Mahasiswa (Image: Dok. Pribadi)

“Waalaikumsalam. Maaf, kite jadwal ulang ya, soalnya habis bawa istri dari klinik. Age nemankan beliau di rumah ni. Jumat pagi, mudahan bisa ya.” demikian pesan yang saya terima via whatsapp ketika agenda untuk bertemu dengan salah seorang sosok jurnalis senior di Kalbar ini harus digeser.

Saya sendiri baru mengenal dekat Beliau belum lama, berawal dari ketertarikan membaca status-statusnya di facebook yang cukup aktif. Rosadi Jamani, itu nama yang terpampang di laman profil media sosial miliknya.

Diskusi Asyik dengan Para Praktisi

“Boleh kita ngopi di Aming Podomoro antara jam 8 smp 9 pagi ini.” pesan ini dikirimkan Bang Ros, demikian dirinya akrab dipanggil untuk memastikan agenda pertemuan yang sempat tertunda, jadi dilaksanakan. Melihat ke jam dinding, waktu menunjukkan jam 06.59 WIB.

Karena hari ini merupakan jadwal mengantar istri berangkat kerja ke kantor, maka tanpa pikir panjang saya langsung membalas pesan tersebut dengan “Ok Bang”. Begitu “misi negara” selesai ditunaikan, tujuan selanjutnya adalah Aming Coffee Podomoro.

Masuk ke halaman parkit, masih tampak sepi. Dari kejauhan sudah dapat dilihat Bang Ros duduk bersama dengan beberapa orang. Saya pun melambaikan tangan menyapa dari jauh. Langsung merapat setelah sebelumnya menyelesaikan proses pesanan di kasir.

Dari beberapa orang yang duduk di meja, Saya hanya mengenal Bang Ros. Selain itu sepertinya masih cukup asing. Menyapa dengan ucapan Salam sembari berjabat tangan satu per satu.

Berasal dari Pontianak, Menghabiskan Masa Studi di Yogyakarta

“Syamsul Kurniawan” demikian ucap dari salah seorang pria. Jujur, sosok tersebut memang masih cukup asing. Setelah mendengar penjelasan dari Bang Ros, barulah diketahui bahwa sosok tersebut merupakan salah seorang dosen di IAIN Pontianak.

Baca Juga:  Peran dan Tantangan Generasi Milenial Menyongsong Indonesia Emas 2045

Baru sadar bahwa sosok yang masih Blogger Borneo anggap asing tersebut ternyata orang yang cukup pintar, ini dapat dibaca dari gelar pendidikan yang dimiliki sudah mencapai tingkatan Doktor.

“Saya asli orang Pontianak Bang, tapi sejak kuliah dari S1 hingga S3, saya selesaikan semua di Jogja.” demikian dirinya menjelaskan.

Karena merasa penasaran, maka Saya mencoba mencari informasi mengenai profil dirinya di Google. Wah, ternyata cukup banyak sumber referensi memunculkan nama Beliau. Salah satu diantaranya adalah One Search Indonesia.

Bang Ros menyampaikan bahwa Bang Syamsul diundang datang atas dasar rekomendasi dari salah seorang relasinya di IAIN Pontianak. Hal ini terkait dengan rencana seleksi tokoh penulis di Indonesia yang akan diikutsertakan dalam nominasi SatuPena Awards Tahun 2023.

Ketua SatuPena Kalbar

Sudah menjadi agenda kegiatan rutin tahunan, SatuPena Awards diselenggarakan. Bang Ros sendiri merupakan Ketua SatuPena untuk wilayah Kalimantan Barat. Beliau didapuk menjadi ketua karena dianggap memiliki pengalaman dalam dunia literasi di Kalbar.

Dulunya Bang Ros ini berprofesi sebagai jurnalis di media yang sempat cukup terkenal yaitu Equator. Hanya sekedar untuk pengenalan, SatuPena merupakan singkatan dari Persatuan Penulis Indonesia.

Beberapa hari sebelum ajakan untuk kopdar ini disampaikan, kami sudah saling berkomunikasi membahas mengenai kegiatan seleksi ini. Untuk kategori tulisan Fiksi dan Non Fiksi, masing-masing akan diajukan dua nama.

Karena masih baru dalam dunia literasi Kalimantan Barat, Saya tidak begitu mengenal para tokoh penulis yang ada. Tapi setelah mengikuti beberapa kegiatan literasi, ada seorang penulis muda berbakat layak untuk ikut serta dalam proses seleksi tersebut. Namanya adalah Dasta Hariansyah.

Baca Juga:  Kualitas Pendidikan di Indonesia Belum Merata? Sistem Zonasi Membongkarnya

Sang Penyiar Milenial

Tampilan screenshot di bawah ini memperlihatkan hasil pencarian yang muncul di laman pertama Google untuk kata kunci “Dasta Hariansyah”. Siapa mengira sosok pemuda yang hidup dan besar di daerah pinggiran kota Pontianak ini ternyata memiliki prestasi cukup membanggakan.

Hasil Pencarian Google untuk Dasta Hariansyah
Hasil Pencarian Google untuk Dasta Hariansyah (Image: google.co.id)

Sang Penyiar Milenial, kata ini terlihat cukup mencolok menghiasi salah satu judul pemberitaan yang dipublikasikan oleh Tribun Pontianak, Sabtu (27/04/2019). Dari penampakan hasil pencarian itu juga dapat langsung diketahui profesi Beliau adalah seorang guru di MTs Aswaja Pontianak.

Sebenarnya Dasta, demikian dirinya akrab dipanggil, turut diundang dalam momen kopdar pagi ini. Akan tetapi dirinya berhalangan dikarenakan sedang sibuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan adik kandung perempuannya yang akan dilaksanakan pada Ahad ini. Insya Allah…

Kondisi Miris Literasi Mahasiswa Saat Ini

Tidak terasa sejam berlalu, suasana diskusi semakin menarik. Karena kedua praktisi ini yaitu Bang Syamsul dan Bang Ros punya background aktivitas yang sama yaitu dosen, maka topik pembahasan mengarah ke rendahnya tingkat literasi para mahasiswa saat ini.

“Saye cukup miris karena mahasiswa sekarang malas untuk diminta membaca, apalagi menulis. Padahal dalam beberapa kali pertemuan, saye coba pancing mereka untuk membuat tulisan mengenai apapun. Tetap sama kondisinya.” ucap Bang Ros membuka cerita.

“Saye sepakat dengan ape yang disampaikan Bang Ros. Jangankan membace buku fisik, wong ebook bahan ajar yang saye berikan ke mereka pun tidak dibaca sama sekali.” sambung Bang Syamsul.

Ternyata apa yang Saya resahkan saat ini, juga turut dirasakan oleh kedua dosen ini. Dapat dibayangkan jika kondisi seperti ini terus berjalan tanpa ada upaya untuk meminimalisir, akan menjadi seperti apa generasi Z ini di masa mendatang.

Baca Juga:  Mengajar di SMA Kapuas Pontianak, Berapa Gaji Saya Sebagai Guru Ekonomi?

Mampu Menatap Gadget Lama, Tidak Mampu Membaca Pustaka

Kondisi Salah Satu Warkop Terkenal di Pontianak
Kondisi Salah Satu Warkop Terkenal di Pontianak (Image: suara.com)

Penampakan foto diatas memperlihatkan pemandangan salah satu warkop terkenal di Pontianak dengan banyak pengunjung. Memang tren yang terjadi dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir adalah semakin menjamurnya warkop-warkop di kota Pontianak khususnya.

Menurut informasi yang Saya dapatkan dari relasi yang bekerja di Dinas Pendapatan Kota Pontianak, terdapat lebih dari 1000 warung kopi terdata dengan berbagai tingkatan kelas. Apakah angka dari data ini memiliki keterkaitan dengan kondisi miris tingkat literasi di kalangan mahasiswa saat ini? Sepertinya iya.

Penutup

Waktu terus berjalan dan obrolan semakin terasa asyik menjelang siang. Sebenarnya rasanya masih banyak yang ingin dibahas terutama mengenai apa yang bisa dilakukan kedepannya. Sebagai salah seorang praktisi kepenulisan yang selama ini telah lama memiliki pengalaman, kondisi sekarang sudah cukup memperhatikan.

“Kenapa harus selalu Kampanye Membaca yang digaungkan, bukan Kampanye Menulis. Padahal ketika MEMBACA, belum tentu dia akan MENULIS. Akan tetapi ketika MENULIS, pasti dia akan MEMBACA.” ucap Bang Ros menjelang akhir perjumpaan pagi ini.

“Jadi ketika seseorang itu membaca, maka ilmu yang didapatnya akan hilang secara berangsur-angsur. Memori otak manusia itu terbatas, menulis itu merupakan upaya untuk mengikat ilmu.” Bang Syamsul menambahkan.

Saya pun mencoba mencari referensi mengenai inti dari akhir diskusi pagi ini yaitu IKATLAH ILMU DENGAN MENULIS. Mengutip tulisan dari laman rumaysho.com, dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Demikian tulisan dari Saya mengenai kegiatan diskusi asyk dengan para praktisi pada pagi hari ini, Jum’at (18/11/2023). Nantikan agenda kopdar lagi selanjutnya, jika ada yang berminat untuk bergabung langsung saja menghubungi nomor whatsapp ini. Salam Literasi… (DW)

Bagikan:

Baca Juga Artikel Lainnya

Leave a Comment

Kledo Software Akuntansi Online
Pontianak Wordpress Meetup