10 Prinsip Dasar Akuntansi yang Harus Anda Pahami Selaku Pemilik Usaha

Dwi Wahyudi

Prinsip Dasar Akuntansi
Ilustrasi Prinsip Dasar Akuntansi (Image: freepik.com)

Akuntansi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengukuran, pencatatan, dan pelaporan aktivitas keuangan suatu entitas. Akuntansi sangat penting bagi berbagai pihak, seperti pemilik, manajer, kreditur, investor, pemerintah, dan masyarakat.

Dengan akuntansi, kita dapat mengetahui kinerja, posisi, dan arus kas suatu entitas. Namun, untuk membuat laporan keuangan yang valid, akurat, dan dapat dipercaya, kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan akuntansi.

Prinsip Dasar Akuntansi

Kita harus mengikuti prinsip-prinsip dasar akuntansi yang telah disepakati oleh para ahli dan praktisi akuntansi. Prinsip-prinsip dasar akuntansi adalah pedoman atau aturan yang menjadi dasar dalam melaksanakan proses akuntansi.

Apa saja prinsip-prinsip dasar akuntansi itu? Mengapa kita harus mengikuti prinsip-prinsip dasar akuntansi? Bagaimana cara menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam praktik? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara lengkap dan mudah dipahami.

Prinsip-prinsip dasar akuntansi yang berlaku di Indonesia diatur oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui Standar Akuntansi Keuangan (SAK). SAK merupakan kumpulan peraturan dan kebijakan akuntansi yang disusun berdasarkan kerangka konseptual akuntansi dan standar akuntansi internasional.

Menurut SAK, ada 10 prinsip dasar akuntansi yang harus ditaati oleh semua entitas yang menyusun laporan keuangan. Berikut adalah 10 prinsip dasar akuntansi beserta penjelasannya:

1. Prinsip Entitas Ekonomi (Economic Entity Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi harus dipisahkan dari pemiliknya dan pihak lain yang terkait. Entitas ekonomi adalah unit usaha yang melakukan aktivitas ekonomi, seperti perusahaan, organisasi, atau individu.

Pemilik adalah orang atau kelompok yang memiliki hak atas entitas ekonomi, seperti pemegang saham, anggota koperasi, atau pengusaha. Pihak lain yang terkait adalah pihak yang memiliki hubungan dengan entitas ekonomi, seperti karyawan, pemasok, pelanggan, atau pemerintah.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi hanya mencerminkan transaksi yang berhubungan dengan entitas ekonomi tersebut, tidak mencampuradukkan dengan transaksi pribadi pemilik atau pihak lain.

Misalnya, jika pemilik perusahaan membeli mobil untuk keperluan pribadi, maka transaksi tersebut tidak dicatat dalam laporan keuangan perusahaan, karena tidak berhubungan dengan aktivitas usaha perusahaan.

2. Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa aset dan liabilitas harus dicatat dengan harga perolehan atau biaya historisnya. Harga perolehan atau biaya historis adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau ditukarkan untuk memperoleh aset atau liabilitas pada saat transaksi terjadi.

Aset adalah sumber daya yang dimiliki atau dikuasai oleh entitas ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat ekonomi di masa depan. Liabilitas adalah kewajiban entitas ekonomi untuk menyerahkan aset atau memberikan jasa kepada pihak lain sebagai akibat dari transaksi masa lalu.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menunjukkan nilai aset dan liabilitas yang objektif dan dapat diverifikasi, tidak dipengaruhi oleh perubahan harga pasar atau inflasi.

Misalnya, jika entitas ekonomi membeli tanah seharga Rp 100 juta pada tahun 2023, maka tanah tersebut dicatat dengan nilai Rp 100 juta dalam laporan keuangan, meskipun harga tanah tersebut naik menjadi Rp 150 juta pada tahun 2024.

3. Prinsip Kesinambungan Usaha (Going Concern Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi diasumsikan akan beroperasi dalam waktu yang tidak terbatas atau dapat bertahan hidup.

Asumsi ini berarti bahwa entitas ekonomi tidak akan menghentikan aktivitasnya, melikuidasi asetnya, atau mengurangi operasinya secara signifikan dalam waktu dekat. Asumsi ini juga berarti bahwa entitas ekonomi akan mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya yang jatuh tempo.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi disusun dengan menggunakan dasar akrual, yaitu metode akuntansi yang mengakui pendapatan dan beban pada saat terjadinya, bukan pada saat kas diterima atau dibayarkan.

Dasar akrual ini memungkinkan entitas ekonomi untuk mencatat aset dan liabilitas jangka panjang, seperti piutang, utang, persediaan, dan penyusutan. Dasar akrual ini juga memungkinkan entitas ekonomi untuk menilai kinerja dan posisi keuangannya secara lebih akurat dan relevan.

Baca Juga:  Kelas Mahir Financial, Belajar Melakukan Perencanaan Keuangan Keluarga dari Dasar

4. Prinsip Mencocokkan (Matching Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa pendapatan dan beban harus dicocokkan atau dipertemukan dalam periode yang sama. Pendapatan adalah arus masuk aset atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan peningkatan ekuitas, selain dari kontribusi pemilik.

Beban adalah arus keluar aset atau peningkatan liabilitas yang mengakibatkan penurunan ekuitas, selain dari distribusi kepada pemilik.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menunjukkan laba atau rugi yang sesuai dengan aktivitas usaha yang dilakukan dalam periode tertentu. Laba atau rugi adalah selisih antara pendapatan dan beban.

Misalnya, jika entitas ekonomi menjual barang seharga Rp 200 juta pada bulan Januari 2024, dan biaya produksi barang tersebut adalah Rp 150 juta yang dikeluarkan pada bulan Desember 2023, maka pendapatan dan beban tersebut dicocokkan dalam periode Januari 2024, sehingga laba yang dihasilkan adalah Rp 50 juta.

5. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa pendapatan harus diakui pada saat terjadinya, yaitu pada saat entitas ekonomi telah menyelesaikan kewajibannya untuk menyampaikan barang atau jasa kepada pelanggan, dan telah memperoleh hak untuk menerima pembayaran.

Prinsip ini juga menyatakan bahwa pendapatan harus diukur dengan jumlah kas atau setara kas yang diterima atau akan diterima dari pelanggan.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menunjukkan pendapatan yang sesuai dengan nilai barang atau jasa yang diserahkan kepada pelanggan, tidak tergantung pada waktu penerimaan kas.

Misalnya, jika entitas ekonomi menjual barang kredit seharga Rp 100 juta pada bulan Januari 2024, dan akan menerima pembayaran pada bulan Maret 2024, maka pendapatan tersebut diakui pada bulan Januari 2024, bukan pada bulan Maret 2024.

6. Prinsip Konservatisme (Conservatism Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi harus berhati-hati dalam mengestimasi dan melaporkan aset dan liabilitas, serta pendapatan dan beban.

Prinsip ini juga menyatakan bahwa entitas ekonomi harus menghindari penilaian yang terlalu optimis atau pesimis, dan harus memilih alternatif yang paling rendah jika ada keraguan atau ketidakpastian.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menunjukkan nilai aset dan liabilitas yang realistis dan wajar, serta pendapatan dan beban yang tidak dibesar-besarkan atau dikurang-kurangi.

Prinsip ini juga bertujuan untuk melindungi kepentingan pemilik dan pihak lain yang berkepentingan dari kerugian yang mungkin timbul akibat kesalahan atau manipulasi dalam pelaporan keuangan.

Misalnya, jika entitas ekonomi memiliki persediaan yang rusak atau usang, maka persediaan tersebut harus diturunkan nilainya atau disisihkan sebagai kerugian, bukan dicatat dengan nilai penuhnya.

7. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi harus konsisten dalam menerapkan metode, kebijakan, dan prosedur akuntansi dari periode ke periode.

Prinsip ini juga menyatakan bahwa entitas ekonomi harus mengungkapkan setiap perubahan yang dilakukan dalam metode, kebijakan, dan prosedur akuntansi, serta alasan dan dampaknya terhadap laporan keuangan.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi dapat dibandingkan dan dianalisis secara lebih mudah dan objektif, baik antar periode maupun antar entitas.

Prinsip ini juga bertujuan untuk mencegah entitas ekonomi dari melakukan perubahan-perubahan yang bertujuan untuk mengelabui atau menyesatkan pemakai laporan keuangan.

Misalnya, jika entitas ekonomi menggunakan metode penyusutan garis lurus untuk aset tetap, maka metode tersebut harus digunakan secara konsisten setiap periode, kecuali ada alasan yang kuat untuk mengubahnya.

8. Prinsip Materialitas (Materiality Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi harus melaporkan semua informasi yang material atau penting bagi pemakai laporan keuangan.

Informasi yang material adalah informasi yang dapat mempengaruhi keputusan ekonomi yang diambil oleh pemakai laporan keuangan, jika informasi tersebut dihilangkan atau salah disajikan.

Prinsip ini juga menyatakan bahwa entitas ekonomi harus mengabaikan informasi yang tidak material atau tidak penting bagi pemakai laporan keuangan, karena informasi tersebut tidak relevan atau tidak signifikan.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menjadi lebih lengkap, jelas, dan informatif, tanpa mengandung informasi yang berlebihan atau tidak perlu. Prinsip ini juga bertujuan untuk menghemat biaya dan waktu dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan.

Baca Juga:  Persamaan Dasar Akuntansi: Konsep, Manfaat, dan Contoh

Misalnya, jika entitas ekonomi memiliki utang sebesar Rp 1 juta yang jatuh tempo dalam 30 hari, maka utang tersebut harus dilaporkan dalam laporan keuangan, karena utang tersebut material atau penting bagi pemakai laporan keuangan.

Namun, jika entitas ekonomi memiliki utang sebesar Rp 10 ribu yang jatuh tempo dalam 30 hari, maka utang tersebut dapat diabaikan dalam laporan keuangan, karena utang tersebut tidak material atau tidak penting bagi pemakai laporan keuangan.

9. Prinsip Realisasi (Realization Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi harus melaporkan keuntungan atau kerugian yang telah direalisasikan atau terjadi. Keuntungan atau kerugian yang direalisasikan adalah keuntungan atau kerugian yang timbul dari penjualan, pertukaran, atau pelepasan aset atau liabilitas.

Keuntungan atau kerugian yang direalisasikan berbeda dengan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasikan, yaitu keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai pasar atau nilai wajar aset atau liabilitas, tanpa adanya transaksi penjualan, pertukaran, atau pelepasan.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menunjukkan keuntungan atau kerugian yang nyata dan pasti, tidak bersifat hipotetis atau potensial. Prinsip ini juga bertujuan untuk mencegah entitas ekonomi dari melakukan spekulasi atau manipulasi dalam melaporkan keuntungan atau kerugian.

Misalnya, jika entitas ekonomi memiliki saham seharga Rp 100 juta pada tahun 2020, dan harga saham tersebut naik menjadi Rp 150 juta pada tahun 2021, maka entitas ekonomi tidak dapat melaporkan keuntungan sebesar Rp 50 juta dalam laporan keuangan, karena keuntungan tersebut belum direalisasikan atau terjadi, kecuali entitas ekonomi menjual saham tersebut pada tahun 2021.

10. Prinsip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure Principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa entitas ekonomi harus mengungkapkan semua informasi yang relevan dan material bagi pemakai laporan keuangan dalam laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan.

Informasi yang relevan adalah informasi yang dapat mempengaruhi keputusan ekonomi yang diambil oleh pemakai laporan keuangan, jika informasi tersebut diketahui oleh pemakai laporan keuangan.

Informasi yang material adalah informasi yang dapat mempengaruhi keputusan ekonomi yang diambil oleh pemakai laporan keuangan, jika informasi tersebut dihilangkan atau salah disajikan.

Dengan prinsip ini, laporan keuangan entitas ekonomi menjadi lebih transparan, akuntabel, dan kredibel, tanpa mengandung informasi yang menyesatkan, menipu, atau disembunyikan.

Prinsip ini juga bertujuan untuk melindungi kepentingan pemakai laporan keuangan dari kemungkinan kerugian atau kesalahan yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau ketidakjelasan informasi.

Misalnya, jika entitas ekonomi terlibat dalam sengketa hukum yang berpotensi menimbulkan kerugian besar, maka entitas ekonomi harus mengungkapkan hal tersebut dalam laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan, beserta estimasi kerugian yang mungkin terjadi.

Mengapa Kita Harus Mengikuti Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi?

Setelah mengetahui apa saja prinsip-prinsip dasar akuntansi, kita mungkin bertanya-tanya, mengapa kita harus mengikuti prinsip-prinsip dasar akuntansi? Apa manfaat dan tujuan dari prinsip-prinsip dasar akuntansi?

Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita harus mengikuti prinsip-prinsip dasar akuntansi:

  • Prinsip-prinsip dasar akuntansi membantu kita untuk menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dengan demikian, kita dapat memenuhi kewajiban hukum dan peraturan yang berhubungan dengan pelaporan keuangan, seperti pajak, audit, atau perizinan.
  • Prinsip-prinsip dasar akuntansi membantu kita untuk menyajikan laporan keuangan yang dapat dipahami dan dipercaya oleh pemakai laporan keuangan. Dengan demikian, kita dapat meningkatkan reputasi dan kredibilitas entitas ekonomi di mata pemakai laporan keuangan, seperti pemilik, manajer, kreditur, investor, pemerintah, dan masyarakat.
  • Prinsip-prinsip dasar akuntansi membantu kita untuk menganalisis dan mengevaluasi kinerja, posisi, dan arus kas entitas ekonomi. Dengan demikian, kita dapat mengambil keputusan ekonomi yang tepat dan rasional, baik untuk kepentingan internal maupun eksternal entitas ekonomi.
  • Prinsip-prinsip dasar akuntansi membantu kita untuk mengendalikan dan mengawasi aktivitas keuangan entitas ekonomi. Dengan demikian, kita dapat mencegah dan mendeteksi adanya kesalahan, kecurangan, atau manipulasi dalam pelaporan keuangan, yang dapat merugikan entitas ekonomi atau pemakai laporan keuangan.

Bagaimana Cara Menerapkan Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi dalam Praktik?

Setelah mengetahui mengapa kita harus mengikuti prinsip-prinsip dasar akuntansi, kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana cara menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam praktik?

Baca Juga:  Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Dibeli atau yang Diproduksi Sendiri

Apa langkah-langkah dan tips yang dapat kita lakukan untuk menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam praktik?

Berikut adalah beberapa langkah-langkah dan tips yang dapat kita lakukan untuk menerapkan prinsip-prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam praktik:

Langkah Pertama

Memahami dan mempelajari prinsip-prinsip dasar akuntansi yang telah dijelaskan sebelumnya. Kita harus menguasai konsep, definisi, dan contoh dari masing-masing prinsip dasar akuntansi, serta mengetahui kaitan dan perbedaan antara prinsip-prinsip dasar akuntansi.

Langkah Kedua

Menyesuaikan prinsip-prinsip dasar akuntansi dengan karakteristik dan kebutuhan entitas ekonomi yang kita tangani. Kita harus mengetahui jenis, ukuran, bidang, dan tujuan entitas ekonomi yang kita tangani, serta mengetahui standar akuntansi yang berlaku bagi entitas ekonomi tersebut.

Kita juga harus mengetahui pemakai laporan keuangan dan kepentingan mereka terhadap laporan keuangan yang kita susun.

Langkah Ketiga

Menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam setiap tahap proses akuntansi, yaitu pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, penggolongan, peringkasan, penyajian, dan pengungkapan transaksi keuangan.

Kita harus menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi secara konsisten, objektif, dan hati-hati dalam setiap tahap proses akuntansi, serta menghindari kesalahan, kecurangan, atau manipulasi dalam proses akuntansi.

Langkah Keempat

Mengevaluasi dan merevisi prinsip-prinsip dasar akuntansi yang kita terapkan, jika diperlukan. Evaluasi dan revisi prinsip-prinsip dasar akuntansi yang kita terapkan, jika ada perubahan dalam kondisi, kebijakan, atau peraturan yang mempengaruhi entitas ekonomi yang kita tangani.

Kita juga harus melakukan evaluasi dan revisi prinsip-prinsip dasar akuntansi yang kita terapkan, jika ada masukan, saran, atau kritik dari pemakai laporan keuangan atau pihak lain yang berkepentingan.

Beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam praktik adalah:

  • Menggunakan software akuntansi yang dapat membantu kita dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi. Software akuntansi adalah program komputer yang dapat melakukan fungsi-fungsi akuntansi, seperti pengolahan data, perhitungan, pencetakan, dan penyimpanan laporan keuangan. Software akuntansi dapat mempermudah dan mempercepat proses akuntansi, serta mengurangi risiko kesalahan atau kehilangan data.
  • Mengikuti pelatihan, seminar, atau workshop yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi. Pelatihan, seminar, atau workshop adalah kegiatan belajar yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kita dalam menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi. Pelatihan, seminar, atau workshop dapat memberikan kita kesempatan untuk bertukar pengalaman, informasi, dan masalah dengan para ahli dan praktisi akuntansi, serta mendapatkan bimbingan, arahan, dan solusi dari mereka.
  • Membaca buku, jurnal, artikel, atau sumber-sumber lain yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi. Buku, jurnal, artikel, atau sumber-sumber lain adalah media informasi yang dapat memberikan kita wawasan, pemahaman, dan inspirasi dalam menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi. Buku, jurnal, artikel, atau sumber-sumber lain dapat memberikan kita teori, konsep, metode, studi kasus, contoh, atau ilustrasi yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi.

Penutup

Prinsip-prinsip dasar akuntansi adalah pedoman atau aturan yang menjadi dasar dalam melaksanakan proses akuntansi. Prinsip-prinsip dasar akuntansi yang berlaku di Indonesia diatur oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

Ada 10 prinsip dasar akuntansi yang harus ditaati oleh semua entitas yang menyusun laporan keuangan, yaitu:

  • Prinsip Entitas Ekonomi (Economic Entity Principle)
  • Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)
  • Prinsip Kesinambungan Usaha (Going Concern Principle)
  • Prinsip Mencocokkan (Matching Principle)
  • Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)
  • Prinsip Konservatisme (Conservatism Principle)
  • Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)
  • Prinsip Materialitas (Materiality Principle)
  • Prinsip Realisasi (Realization Principle)
  • Prinsip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure Principle)

Prinsip-prinsip dasar akuntansi memiliki manfaat dan tujuan yang sangat penting bagi entitas ekonomi dan pemakai laporan keuangan, yaitu:

  • Membantu menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
  • Membantu menyajikan laporan keuangan yang dapat dipahami dan dipercaya oleh pemakai laporan keuangan.
  • Membantu menganalisis dan mengevaluasi kinerja, posisi, dan arus kas entitas ekonomi.
  • Membantu mengendalikan dan mengawasi aktivitas keuangan entitas ekonomi.

Untuk menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam praktik, kita dapat melakukan langkah-langkah dan tips berikut:

  • Memahami dan mempelajari prinsip-prinsip dasar akuntansi.
  • Menyesuaikan prinsip-prinsip dasar akuntansi dengan karakteristik dan kebutuhan entitas ekonomi yang kita tangani.
  • Menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi dalam setiap tahap proses akuntansi.
  • Mengevaluasi dan merevisi prinsip-prinsip dasar akuntansi yang kita terapkan, jika diperlukan.
  • Menggunakan software akuntansi yang dapat membantu kita dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi.
  • Mengikuti pelatihan, seminar, atau workshop yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi.
  • Membaca buku, jurnal, artikel, atau sumber-sumber lain yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi.

Demikianlah artikel ini tentang prinsip-prinsip dasar akuntansi. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah pengetahuan kita tentang akuntansi. Terima kasih telah membaca artikel ini sampai selesai.

Jika ada pertanyaan, saran, atau kritik, silakan tulis di kolom komentar di bawah ini. Sampai jumpa di artikel selanjutnya! (DW)

Bagikan:

Baca Juga Artikel Lainnya

Leave a Comment

Kledo Software Akuntansi Online
Pontianak Wordpress Meetup